Website Resmi Kedutaan  Besar Amerika Serikat di Jakarta, Indonesia


 

 

 

TEKS RESMI
KEDUTAAN BESAR A.S.

PUBLIC AFFAIRS SECTION


Pidato Menteri Luar Negeri A.S. Condoleezza Rice

english version


Jakarta Convention Center 
Jakarta, Indonesia

 Rabu, 15 Maret 2006


Terima kasih kepada Dr. Arifin Siregar untuk pendahuluan yang telah diberikan. Terima kasih juga untuk kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbicara di depan forum Indonesian Council on World Affairs (ICWA) ini. Pertemuan orang-orang yang tertarik pada masalah luar negeri dari berbagai macam bidang semacam ini, sangatlah penting bagi jalannya demokrasi, dan saya memuji Anda, dewan, dan pelindung Anda atas hasil kerja luar biasa yang telah dilakukan.

Sungguh menggembirakan dapat berada di Jakarta. Kemarin saya mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Presiden Yudhoyono. Beliau mengutarakan kepada saya visi nya akan sebuah negara Indonesia yang bersatu, sukses, dan demokratis - sebuah visi yang terus sedang diwujudkan di bawah kepemimpinannya. Saat ini, sudah lebih banyak rakyat Indonesia yang hidup dalam perdamaian, kesempatan, dan kebebasan. Dan Amerika Serikat ingin membantu Anda memperluas manfaat dari demokrasi bagi setiap warga di negeri ini.

Amerika Serikat telah menjadi negara yang menjunjung perdamaian selama hampir dua abad. Dan sampai hari ini, dukungan kami yang tiada henti untuk keberhasilan Asia tetap berakar pada prinsip yang sama, yaitu memajukan perdamaian dan aturan hukum, kebebasan perdagangan dan pertukaran, dan dukungan aspirasi yang adil bagi seluruh rakyat. Prinsip-prinsip ini kini berlabuh di hati kemitraan kami dengan Indonesia yang terus tumbuh - sebuah negara demokratis yang sedang berkembang yang, juga seperti kami, memiliki tradisi toleransi dan sikap moderat serta “satu dalam perbedaan” atau yang di Indonesia disebut dengan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Tidak banyak negara memiliki keragaman seperti Indonesia. Kepulauan Anda yang berjumlah lebih dari 17.000 buah terbentang sejauh jarak dataran Amerika Serikat. Indonesia menjadi tempat bagi 240 juta penduduk yang terdiri dari ratusan etnis dan budaya yang berbeda dan agama yang ada di dunia, termasuk Islam. Satu dari delapan umat Islam di dunia berasal dari Indonesia. Selama beberapa tahun belakangan ini, Indonesia berusaha untuk terbebas dari warisan kekuasaan otokrat dan telah mulai membangun demokrasi Indonesia yang sesungguhnya dengan adat dan budaya serta sejarah dan pengalaman mereka sendiri. Kini, Indonesia meraih keberhasilan bukan akibat keragaman tapi berkat keragaman tersebut.

Keragaman di Indonesia menjadi sumber kekuatan yang membangkitkan rakyat Indonesia dari cobaan yang berat akibat bencana tsunami. Menghadapi amukan alam ini, Indonesia bersatu mengusung keberanian, kasih sayang, dan sikap kepahlawanan yang tak ternilai. Salah satu pahlawan tersebut adalah Erni Munir, seorang perawat dan bidan di Aceh yang kehilangan segalanya akibat tsunami. Hari ini dia hadir di sini. Luar biasa! Erni Munir berhasil mengubah sebuah toko yang kosong menjadi sebuah klinik untuk merawat wanita hamil dan anak-anak meskipun pada kenyataannya dia sendiri harus kehilangan suami dan ketiga anak perempuannya akibat bencana tsunami. Sejak saat itu, dia telah merawat ratusan pasien, dan membantu para wanita hamil yang hidup dalam pengungsian sehingga dapat melahirkan dengan selamat. Anda benar-benar pahlawan sejati. Terima kasih banyak.

Berkat orang-orang seperti Erni Munir, rakyat Indonesia mampu mengubah tragedi yang memilukan menjadi sebuah kemenangan perdamaian di Aceh. Hampir seperempat juta jiwa melayang akibat bencana ini dan rakyat di pelosok negeri bersatu untuk membantu rakyat Aceh. Mereka membantu bukan karena mereka dari Jawa, Sunda, atau Aceh, tapi karena mereka adalah rakyat Indonesia. Perjanjian Damai Aceh menjadi sebuah langkah penuh harapan bagi visi terwujudnya Indonesia yang utuh, merdeka, dan damai. Dan Amerika Serikat bangga mendukung prestasi ini.

Setelah terjadinya bencana tsunami, Amerika Serikat langsung terjun memberikan bantuan bagi saudara-saudara kami yang membutuhkan. Para korban yang selamat ingat bagaimana kapal USS Lincoln dan helikopter-helikopter dari Amerika menjadi lambang akan sebuah harapan. Tanggapan pemerintahan saya ini juga ditindaklanjuti oleh rasa kasih sayang yang ditunjukkan oleh ribuan warga Amerika yang sebagian besar warga kebanyakan, pria, wanita, dan bahkan anak-anak yang menyumbangkan sejumlah uang baik melalui internet, gereja, sinagoga, atau mesjid, maupun surat wesel yang bisa mereka berikan kepada Palang Merah. Keinginan kami untuk membantu terus berlanjut hingga kini. Tenaga bantuan pekerja dari Amerika bekerja di Aceh terus bekerja dengan Anda untuk membantu membangun klinik, sekolah, dan jalan-jalan penting yang akan menyatukan kembali propinsi Aceh.

Seperti kita lihat sewaktu terjadinya tsunami, keterlibatan Amerika dengan Indonesia lebih dari sekedar kemitraan, tapi merupakan persatuan warganya. Keberhasilan Anda adalah keberhasilan kami juga dan kami ingin membantu Anda memperoleh manfaat dari demokrasi yang Anda jalankan.

Presiden Yudhoyono menyatakan misi pemerintahannya yang “pro-pertumbuhan, pro-lapanan kerja, dan pro-pengentasan kemiskinan”. Dan kami mendukung kampanye nya untuk menghilangkan cacat yang di Indonesia dikenal dengan istilah KKN Korupsi, Kolusi, Nepotisme yang menghalangi potensi manusia yang berada di mana saja. Para ahli hukum dari Amerika membantu Indonesia untuk memperkuat aturan hukum dan menjamin keadilan yang sama bagi setiap warga negara, mulai dari pengusaha yang kaya raya sampai petani yang miskin.

Kami juga bekerja dengan Anda untuk memajukan perkembangan ekonomi dan mobilitas sosial melalui pendidikan. Kami selalu membuka pintu bagi mahasiswa Indonesia yang telah turut memperkaya warna bangsa kami, dan kembali ke negara mereka untuk menjadi pemimpin. Presiden Yudhoyono dan 12 menteri kabinetnya pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi di Amerika.

Presiden Bush kini sedang menggalakkan komitmennya untuk pendidikan di Indonesia. Saat beliau mengunjungi Bali pada 2003, beliau mengumumkan sesuatu yang sangat penting yaitu prakarsa sebesar 157 juta dolar A.S. untuk melatih para guru di Indonesia. Kini, mereka yang lulus pelatihan, telah mengajar lebih dari 300,000 murid Indonesia, pria dan wanita. Kemarin, saya berkesempatan mengunjungi Madrasah Ma’muriyah di Jakarta.

Persatuan warga kita merupakan bagian dari komunitas perdamaian yang lebih luas yang telah mempersatukan Amerika dan Asia selama beberapa dekade melalui perjalanan, pertukaran, dan imigrasi. Ribuan warga Amerika yang tinggal di Asia tenggara, memilih bermukim di Indonesia berkat daya tarik perdagangan dan budaya atau keduanya. Begitu juga, jutaan saudara saya mencari jejak akar nya ke kawasan ini. Warga dari Vietnam, Kamboja, Filipina, Indonesia, semua kini banyak yang tinggal di Orange County, Kalifornia, Houston, Texas, dan Virginia Utara. Mereka semua mengejar mimpi Amerika dan menambah warna khasanah Amerika.

Saya fokus pada sosok manusia hari ini karena satu alasan - karena manusia dari Asia Tenggara lah yang mengubah harapan Asia Tenggara. Tantangan Anda kini adalah memperluas perdamaian, kesempatan, dan kebebasan yang banyak kita lihat di Asia Tenggara bagi seluruh Asia Tenggara. Untuk mencapai tujuan ini, Amerika Serikat berkeinginan untuk bekerjasama dengan ASEAN melalui Kemitraan Yang Lebih Maju (Enhanced Partnership) kami yang baru, dan kami melihat Indonesia sebagai negara yang paling luas, pendiri ASEAN, dan negara demokratis yang sedang tumbuh untuk memainkan peran kepemimpinan di Asia Tenggara dan dalam Asia Timur yang sedang berubah, secara umum.

Asia Tenggara telah banyak yang berubah dan semua berubah dalam waktu yang sangat cepat. Lihatlah gambaran tiga dasawarsa yang lalu: perang lintas batas, ancaman subversi komunis, ketakutan bahwa Amerika akan mundur, dan kekhawatiran tentang munculnya “tirai bambu” yang dapat mempengaruhi kawasan Pasifik. Namun, beberapa dekade kemudian, bangsa-bangsa di Asia tenggara menyadari sepenuhnya masa depan kerjasama yang damai melalui ASEAN. Amerika Serikat mendukung visi Anda dengan kerjasama diplomatik, ekonomi, dan militer kami yang terus terjaga. Dan kini, kawasan ini menjadi pilar stabilitas di Asia

Amerika Serikat kini telah memulihkan hubungan militer dengan Indonesia seiring pilihan bangsa ini untuk memilih jalur demokrasi. Kami terus mengharapkan kemajuan bagi tercapainya akuntabilitas dan reformasi yang lebih besar secara penuh di bidang militer. Militer Indonesia yang telah direformasi dan efektif menjadi perhatian setiap orang karena ancaman terhadap keamanan bersama belum sepenuhnya hilang. Tantangan terbesar kini muncul di dalam setiap negara dan bukannya antar negara dan tidak bisa dihadapi oleh negara itu seorang diri. Kerjasama multilateral sangatlah penting sehingga Amerika Serikat terus bekerjasama dengan dua sekutu kami di kawasan ini yaitu Thailand dan Filipina. Dan kami akan terus memperkuat kemitraan kami dengan ASEAN melalui institusi seperti APEC dan Forum Regional ASEAN guna menghadapi ancaman global masa kini.

Salah satu ancaman tersebut adalah dari pelaku kejahatan yang memanfaatkan keterbukaan yang terus berkembang di kawasan ini. Asia Tenggara memiliki wilayah perairan yang lebih luas daripada daratannya dan keamanan maritim menjadi prioritas utama. Jadi, kami bekerjasama dengan Indonesia dan lainnya dalam upaya menutup wilayah perairan di kawasan ini dari penyelundupan narkoba, perdagangan manusia, perompakan, dan proliferasi senjata. Kami juga selalu siap siaga membantu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand untuk mengamankan Selat Malaka di mana seperempat kegiatan perdagangan dan minyak dunia selalu melewati selat ini setiap tahunnya.

Ancaman global lainnya adalah penyebaran epidemi seperti SARS, HIV/AIDS, dan flu burung. Tahun lalu di PBB, Presiden Bush mencanangkan sebuah kemitraan global untuk menghadapi ancaman flu burung. Kemitraan baru ini membantu mengkoordinasikan konferensi donor yang berlangsung di Beijing baru-baru ini, yang berhasil mengumpulkan hampir 2 milyar dolar AS. Amerika Serikat tahun ini juga menyumbangkan tambahan dana sebesar 11,5 juta dolar AS untuk memberantas flu burung di Indonesia. Kedua negara kita bekerjasama dengan Singapura dalam menciptakan suatu program peringatan dini di negara Anda yang kita harapkan bisa digunakan sebagai model di bagian lain wilayah ini.

Akhirnya, tapi bukan yang terakhir, kita harus terus memerangi terorisme di Asia Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat ancaman nyata yang dilancarkan para ekstremis yang menggunakan teror sebagai senjata mereka. Kelompok-kelompok seperti Abu Sayaf dan Jemaah Islamiyah ingin menghancurkan dinamisme dan tradisi toleransi di wilayah ini, dan menjadikan Asia Tenggara sebagai “Lingkaran Api” dalam pengertian yang sebenarnya. Bangsa Asia, khususnya Indonesia, sangat memahami hal ini. Berbagai serangan teroris di negara ini telah membunuh ratusan orang Indonesia yang tak berdosa, yang kebanyakan adalah Muslim.

Wilayah ini menyadari bahwa teroris harus dilawan secara aktif – dan Amerika Serikat membantu dalam upaya ini. Kita bekerja bersama negara-negara seperti Malaysia dan Singapura, dan untuk membangun kapasitas negara lain, seperti Filipina, yang memiliki tekad untuk menumpas terorisme namun butuh bantuan dalam hal materi. Indonesia saat ini menyeret para teroris ke pengadilan. Aksi-aksi ini memberdayakan penduduk di wilayah ini yang memiliki kekuatan yang paling kokoh – yakni kekuatan toleransi. Penduduk Muslim di Asia Tenggara sedang mempersatukan tradisi Islam dengan prinsip-prinsip demokrasi, serta memajukan harapan bagi perdamaian di wilayah ini.

Perluasan perdamaian terus menciptakan peluang bagi laki-laki dan perempuan untuk mengubah hidup mereka. Meskipun didera kesulitan pada akhir 1990-an, masyarakat Asia Tenggara telah mencapai sebuah keajaiban ekonomi: Pada generasi yang lalu, kekayaan wilayah ini bertambah dua kali lipat, kemudian bertambah lagi dua kali lipat, membebaskan lebih dari seratus juta orang dari kemiskinan. Kerjasama ekonomi senantiasa menjadi pilar utama kemitraan Amerika dengan Asia Tenggara, dan hingga hari ini kami tetap berkomitmen dalam memajukan kepentingan bersama kita dalam pertumbuhan ekonomi, peningkatan perdagangan, dan pengentasan kemiskinan.

Negara-negara Asia Tenggara memainkan peran mereka dalam ekonomi global. Di seluruh dunia, jutaan orang bangun setiap pagi dan meminum kopi yang dibuat dari biji kopi yang ditanam di Timor Timur dan Sumatera. Mereka berbincang melalui telepon selular yang dibuat di Thailand dan Filipina. Mereka menghidupkan komputer yang diproduksi di Malaysia, dan di tahun-tahun mendatang, sejumlah besar mikrochip yang menjadi sumber daya bagi komputer-komputer tersebut akan memiliki label bertuliskan “Buatan Vietnam.” Kemajuan ini dapat dilihat di Indonesia, di mana rata-rata pekerja lebih kaya empat kali lipat dibanding orang tua mereka.

Pertumbuhan ekonomi yang berjalan seiring dengan perdagangan bebas sangat penting bagi sukses yang berkesinambungan di wilayah ini. Kelompok negara-negara ASEAN merupakan mitra dagang terbesar keempat Amerika, dan kami ingin memperluas manfaat hubungan yang dinamis ini kepada setiap insan di Asia Tenggara. Kami sedang meningkatkan hubungan kami dengan Vietnam di segala bidang, mulai dari dukungan kami atas upaya mereka bergabung dengan WTO, sampai pada dialog yang kami lakukan tentang hak asasi manusia dan kebebasan fundamental. Kami juga sedang berusaha, melalui program Badan Usaha untuk ASEAN kami, untuk mengusung Perjanjian Perdagangan Bebas dengan negara-negara di wilayah ini yang memiliki komitmen pada keterbukaan dan reformasi ekonomi. Kami telah menandatangani perjanjian dengan Singapura. Kami sedang berdiskusi dengan Thailand. Dan baru saja minggu lalu, kami memulai negosiasi perdagangan bebas dengan Malaysia. Ini semua merupakan langkah penting menuju tercapainya visi bersama kita akan sebuah masyarakat perdagangan bebas Pasifik.

Namun, meskipun mencatat pertumbuhan di bidang perdagangan, keajaiban ekonomi Asia Tenggara masih menjadi mimpi yang sulit dicapai bagi jutaan orang yang didera kemiskinan. Amerika sangat berkomitmen membantu mereka. Di Filipina, misalnya, kami telah menyediakan akses Internet bagi seperempat juta siswa-siswi di sekolah-sekolah miskin di Mindanao. Kami juga telah bekerjasama dengan Kamboja untuk meningkatkan standar perburuhan di negara tersebut untuk menarik investasi asing dari perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab, yang banyak mempekerjakan para wanita muda. Melalui Millennium Challenge Corporation kami, kami ingin memberikan penghargaan pada berbagai negara, termasuk negara seperti Indonesia atas kemajuan mereka dalam memerintah secara adil, mengusung kebebasan ekonomi, serta berinvestasi dalam masyarakat mereka. Dan tentu saja, di Indonesia ini, Amerika telah membantu membangun ribuan pusat perawatan kesehatan dan melatih ribuan bidan, yang telah menyelamatkan jiwa para ibu Indonesia dan anak-anak mereka serta meningkatkan kesehatan mereka secara dramatis.

Oleh karena wilayah ini terus tumbuh dan berkembang, aspirasi untuk kebebasan dan pemerintahan otonomi yang telah kuat menjadi semakin kuat, dan perluasan demokrasi yang inspiratif terus berlanjut. Bagi mereka yang meyakini bahwa manusia adalah budak kekuatan sejarah – baik dan buruk – saya akan menjadikan Asia Tenggara sebagai contoh bagi mereka.

Demokrasi adalah sebuah kenyataan di sebagian besar wilayah ini oleh karena masyarakat meyakininya, serta berusaha dan berkorban untuk mencapainya. Dua puluh tahun lalu, rakyat Filipina melawan kekerasan dan memenangkan demokrasi mereka secara damai melalui “People Power.” Tujuh tahun kemudian, rakyat Thailand bergerak untuk sebuah masa depan yang demokratis. Dan hari ini, rakyat Timor Timur sedang membangun demokrasi mereka.

Rakyat Indonesia telah menorehkan sumbangsih mereka dalam sejarah demokrasi di Asia Tenggara. Pada 1999, saat bangsa ini bersiap menuju tempat pemungutan suara, orang-orang yang berpandangan sinis dan skeptis mengucilkan Anda. Mereka berdalih Indonesia terlalu besar, terlalu rapuh, dan terlalu beragam untuk demokrasi. Mereka keliru. Kemudian ada pula yang mengatakan bahwa demokrasi tak mungkin dipertahankan. Bangsa Indonesia juga membungkam keragu-raguan ini pada pemilu terakhir, yang mencapai puncaknya pada 20 September 2004 – sebuah tanggal yang kini dikenang sebagai hari dengan jumlah pemilih terbesar dalam sejarah manusia; 117 juta penduduk Indonesia secara bebas memilih presiden mereka berikutnya dan menegaskan kepada dunia akan kekuasaan pria maupun wanita yang bebas dan memiliki peluang untuk memilih.

Setiap demokrasi baru di Asia Tenggara saat ini menghadapi tantangan serupa: membangun berbagai institusi demokratis yang bekerja secara transparan dan akuntabel. Institusi-institusi seperti aturan hukum, lembaga yudisial yang independen, serta media yang merdeka untuk memastikan bahwa para pemimpin tetap bertanggung jawab pada rakyat mereka. Namun demikian, di tempat-tempat lain, demokrasi masih menghadapi musuh yang kuat, dan ketika kebebasan diserang, ia harus dibela.

Selama 15 tahun, kediktatoran militer di Myanmar telah menawan berbagai aspirasi demokratis rakyat Myanmar bersama pemimpin mereka yang paling cakap: Ang Sang Suu Kyi. Sebuah negara yang pernah menjadi permata Asia Tenggara kini terkucil dari modernisasi yang berlangsung di wilayah tersebut. Sebuah perekonomian yang pernah berjaya kini lumpuh. Universitas-universitas yang pernah menarik para pemikir terbaik di Asia kini ditutup. Rezim Myanmar kini membawa negara tersebut ke titiknya yang paling rendah dalam arti yang sebenarnya, mengucilkan rakyat mereka dari dunia dan merampas masa depan mereka.

Amerika Serikat memuji berbagai upaya yang dilakukan ASEAN baru-baru ini dalam mendukung aspirasi rakyat Myanmar akan keadilan. Dewan Keamanan PBB telah mengambil alih kasus Myanmar, dan selama rakyat negara ini masih ditekan, Asia Tenggara tak bisa bersikap seakan-akan tak terjadi apa-apa di wilayah tersebut. Atas nama kebebasan di Myanmar, saya ingin menghaturkan rasa terima kasih kepada Pemerintah Indonesia dan Presiden Yudhoyono atas upaya yang telah dilakukan.

Sebagaimana yang kami perhatikan dalam kerjasama kami yang tumbuh di hampir segala bidang, Amerika Serikat dan demokrasi di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, saat ini sedang membangun suatu kemitraan sejati – yang tak hanya didefinisikan oleh berbagai ancaman nyata yang kita hadapi, namun juga oleh cita-cita abadi yang kita perjuangkan: yakni Perdamaian dan Keamanan. Kesempatan dan Kemakmuran. Kebebasan dan Demokrasi. Keadilan dan Toleransi.

Prinsip-prinsip ini adalah sumber kesuksesan – baik di masa lalu, kini, dan masa depan – bagi bangsa yang besar dan multietnis seperti Indonesia dan Amerika Serikat, dan juga India, Brazil, dan Afrika Selatan. Inilah perjalanan menuju ke masa depan. Negara-negara ini sangat berbeda satu sama lain, namun dalam komitmen mereka pada demokrasi serta dalam upaya mereka membangun persatuan dalam keragaman, bangsa-bangsa seperti kita merupakan contoh bagi dunia bahwa keragaman adalah sumber kekuatan. Dan di dalam dunia di mana perbedaan menjadi alasan untuk membunuh, maka hal tersebut menjadi sebuah pesan yang amat luar biasa pentingnya. Pada abad ke-21 ini, kita harus menggunakan kemitraan kita yang demokratis untuk membantu orang-orang di seluruh dunia yang menantikan sebuah masa depan yang penuh harapan. Kemitraan antara Amerika Serikat dan Indonesia merupakan kontribusi yang sangat besar bagi upaya tersebut.

Terima kasih banyak.

 * * *

 

 

 

Home Page Kedutaan AS
Pusat Informasi Kedutaan AS | Informasi Visa | American Citizen Services

Ke atas | Umpan balik

Link ke situs Internet yang bukan milik pemerintah Amerika bukan berarti bahwa pemerintah Amerika menyetujui sudut pandang organisasi tersebut.